Sepuluh tahun lalu, tepatnya di akhir Sofar, Mbah Bu, begitu saya memanggil Nyai Hj Siti Amanah, wafat.
Waktu itu saya menunggui beliau di RS Khotijah Pekalongan. Dan ikut mengawal dalam ambulan sampai rumah.
Saya punya kenangan dengan beliau, yakni latihan membaca Al Quran yang dipersiapkan untuk dibaca di hadapan masyarakat sebelum saya dikhitan.
Memang begitu tradisinya di kampung kami dulu. Anak-anak yang akan khitan membaca surat-surat pendek mulai surat Adh-Dhuha sampai An-Nas, dam disaksikan masyarakat. Tradisi ini juga bisa dibaca sebagai tanda berjalannya ngaji Al- Quran di masjid dan langgar kampung.
Mbah Bu ini kalau baca Al-Quran makhrojnya sangat dalam. Kalau baca huruf qof misalnya, menekankan sampai “nyeklik”, dan kalau baca huruf ha’, itu sampai dada bergetar.
Tentu awalnya saya kesulitan, dan namanya anak kecil kadang mutung. Tapi Mbah Bu tetap menanti saya datang, dan tak marah atas ketidakdatanganku sewaktu saya mutung.
Dalam mengajari baca al-Quran, lagu beliau juga sangat khas, yang menurutku pada waktu itu lagu klasik.
Di sela-sela ngaji, beliau juga kadang bercerita. Salah satu yang saya ingat dan kalau tidak salah ingat, beliau berceita bahwa Mbah Syair dulu sebelum wafat minta dibacakan surat Muhammad.
Apakah saya pernah dimarahi Mbah Bu? Mungkin pernah, namanya juga cucu kadang nakal. Namu seingat saya, ketika mengaji, walau saya kadang tak cepat bisa, Mbah Bu tak marah.
Malah kata ibu saya, Mbah Bu itu kalau ada santri senior memarahi santri junior ketika mengajar al-Quran, santri senior itu ditegur.
“Anak ngaji kok dimarahi. Sudah mau ngaji aja udah bagus, kok dimarahi,” begitu kira-kira kata Mbah Bu, sebagaimana diceritakan ibu saya.
Dulu juga, sewaktu Mbah Bu masih sehat, beliau juga ngajar santri-santri putri kalong yang tidak menginap di pondok. waktunya setiap bakda Magrib.
Saya juga pernah dengar cerita, dulu kalau ada santri yang kesulitan dalam belajar membaca al-Quran, Mbah Bu sendiri yang kemudian mengarinya.
Mbah Bu ini juga merupakan sesok yang terus belajar. Beliau biasa membuka kitab tafsir al-Ibris di kamarnya. Muthalaah sendiri.
Dan tak jarang, sebagaimana kesaksian teman saya, Mbah Bu itu ikut pengajian kitab di aula santri putri, walaupun pas yang membacakan kitab adalah santrinya sendiri.
Teman saya, yang waktu itu baru awal mengajar, merasa tidak enak, karena ada Mbah Bu di situ. Tapi begitulah, karena cinta ilmu dan orang yang mengaji, Mbah Bu masih semangat mengaji.
Untuk haul tahun ini, saya belum bisa ke makam Mbah Bu, karena masih ada sesuatu yang harus diselesaikan di luar kota. Hanya bisa berkirim doa: Alfatihah…
Zaim Ahya, Jogja 2022

