TPI Al Hidayah

Selayang Pandang

Pondok Pesantren TPI Al Hidayah didirikan oleh KH. Sya’ir dan Ny. Hj. Siti Amanah pada tahun 1951 M, diawali dengan mendirikan majelis taklim yang dirintis bersama KH. Ahmad Nahrowi. Pasca wafatnya beliau, estafet kepemimpinan pondok pesantren diteruskan oleh putra-putri beliau: KH. Abdul Manaf Sya’ir, Drs. KH. Agus Musyafa’ Sya’ir, Drs. KH. Sulthon Sya’ir dan Ny. Hj. Faridatul Bahiyah Sya’ir. Sampai saat ini, Pesantren TPI Al Hidayah masih berupaya mendidik, dan mengajarkan para santri ilmu keislaman yang berhaluan Ahlusunnah Waljama’ah An Nahdliyah, beserta keterampilan-keterampilan pendukung.

Sejarah Singkat Pondok Pesantren TPI Al Hidayah

Latar Belakang Berdirinya Pondok Pesantren TPI Al Hidayah Plumbon

Sekitar tahun 1950, atau pasca kepulangan Kiai Sya’ir dari tempat menimba ilmunya, Masyumi adalah mayoritas aliran yang di anut masyarakat desa Plumbon. Pada masa itu, mereka terkenal akan minimnya tingkat pemahaman dan keagamaanya, masih rawan dengan berbagai tindak kemaksiatan dan pola masyarakat yang radikal. Kiai Sya’ir dengan melihat kondisi yang demikian merasa terpanggil untuk membenahinya.

Pada mulanya, Kiai Sya’ir menyelenggarakan Madrasah Diniyah yang berlangsung pada siang hari. Kegiatan ini diikuti oleh segenap masyarakat desa Plumbon dan sekitarnya. Di sisi lain, Kiai Sya’ir juga melakukan dakwahnya melalui kegiatan pengajian rutin setiap hari Senin dan Kamis yang di adakan di surau (mushola). Pengajian tersebut diisi dengan pengajian Al-Qur’an, Al-Barzanji, dan Fasholatan. Menurut beberapa sumber materi yang dipilih dimaksudkan untuk membenahi pengetahuan masyarakat desa terkait dasar-dasar agama Islam sekaligus syari’atnya yang harus dilaksanakan.

Seiring berjalannya waktu, pengajian yang rutin beliau gelar mampu membuahkan hasil yang maksud, ajakan dan tuntunan Kiai Sya’ir dapat tertanam dalam pola kehidupan masyarakat desa Plumbon. Mereka mulai meninggalkan kebiasaan lamanya dan mau melakukan kewajiban-kewajiban sebagaimana perintah syari’at. Dan pada akhirnya, simpati masyarakat desa mampu ditarik oleh sosok Kiai Sya’ir ini.

Metode Awal Pembelajaran di Pesantren

Pada waktu itu, Metode pembelajaran masih menggunakan sistem sorogan, salah satu tradisi warisan para ulama’ salaf ketika mengajarkan kitab kuning. Santri membaca beberapa kalimat dari suatu kitab yang dikaji beserta maknanya, kemudian pengampu mendengarkan dan membenarkannya ketika terdapat kesalahan dari segi harakat (i’rob), susunan (tarkib) dan lain-lainnya.

Kegiatan sorogan ini dimulai setelah jamaah subuh sampai jam sebelas menjelang dzuhur. Menurut cerita Kiai Rozi, santri asal Bawang karena keterbatasan pengampu, pada saat itu kegiatan sorogan ini masih diampu oleh Kiai Sya’ir sendiri dalam satu kelompok, meliputi kitab Safinatun Najah, Mukhtasor Jiddan, Riyadul Badi’ah dan lain sebagainya.

“Kitab yang di ajarkan Kiai Sya’ir tidak pernah khatam, namun beliau selalu menuntut kepada santri-santrinya untuk mampu membaca dan menerangkan isi dari kitab yang telah diajarkan.” Kenang Kiai Rozi santri asal Bawang itu.

Perkembangan intelektualitas santri pada saat itu secara otomatis diawasi langsung oleh pendiri pesantren, yakni Kiai Sya’ir. Menurut Kiai Zaenuri Blimbing, hal ini merupakan keberuntungan bagi para santri generasi pertama, yang tak mungkin dirasakan oleh para santri generasi selanjutnya. Namun, para santri generasi pertama ini tidak seperti generasi sekarang yang didukung dengan berbagai fasilitas.

Pesantren mengepakkan sayapnya

Memasuki tahun-tahun berikutnya, sistem pengajaran mulai berkembang. Dengan bertambahnya jumlah maka dalam proses mengajar Kiai Sya’ir dibantu oleh beberapa santri yang sudah beliau percaya namun masih dalam bimbingan dan pengawasan. Dan pada tahun 1987 dibuka sisitem madrasah diniyah dengan mempertahankan pengajian klasikal yang sudah digagas awal seperti sorogan, bandungan, halaqoh, dan lainnya. Di dalam sistem madrasah ini, kegiatan pembelajaran khususnya pembelajaran kitab mampu diefektifkan melalui keberadaan kelas, meliputi kelas Ula, Tsanawi, dan Aliyah yang dikelompokkan sesuai kemampuan santri dalam menguasai materi.

Seiring sistem madrasah diadakan, metode pembelajaran kitab mampu berjalan dengan efektif dan sistematis. Pesantren mampu fokus dengan fan keilmuan yang bersumber pada kitab-kitab dalam kurikulum yang telah ditetapkan. Adapun kurikulum tersebut terdiri Ilmu Teologi Islam (Ilmu Tauhid), Ilmu Akhlak, Ilmu Fikih, dengan mengaji Mabadi’ Fiqh, Minhajul Qowim, Fathul Qorin Ghoyah, dan Fathul Mu’in. Untuk pelajaran gramatika bahasa Arab menggunakan kitab Jurumiah, Umrithi, Alfiyah, dan Jauharul Maknun. Selain itu dikaji pula Ilmu Hadits, Ilmu Usul Fikih, Ilmu Tasawuf, dan sebagainya.

Tidak pada hal itu saja, selain pengadaan sistem madrasah, metode sorogan juga mengalami pembaharuan. Kurikulum yang berlaku pada sorogan juga diperlakukan sebagaimana dalam madrasah, yakni pengelompokkan santri sesuai kemampuan. Sorogan difokuskan pada ilmu fikih dan ilmu tauhid dasar dengan mengaji kitab: Safinatun Najah, Sulam Munajah, Qotrol Ghoits, Tijan Darori, Riyadul Badi’ah, Sulam Taufiq, hingga Fathul Qorib Mujib. Ada pula pengajian kitab tambahan dengan metode bandungan seperti Hujjah Aswaja, Ushfuriyah, Fathul Wahab, Tafsir Jalalain, Tafsir Munir, dan masih banyak lagi.

Setelah dua tahun sistem madrasah berjalan, pesantren membuka program Takhfidzul Qur’an, yaitu pada tahun 1989.

Di tahun yang sama (1989), Pondok Pesantren TPI Al-Hidayah mulai merambah ke ranah pendidikan formal. Di awali dengan mendirikan Yayasan Islam Al-Sya’iriyah (YISA) yang dipelopori oleh Kiai Amin Syafi’i, Kiai Mashuri Malik, dan Kiai Abdul Manaf, putra sulung Kiai Sya’ir selaku pemegang estafet kepengasuhan pondok pesantren, setelah wafatnya ayah beliau, Kiai Sya’ir pada tahun 1988. Menginjak tahun 1991, kegiatan madrasah disesuaikan dengan sekolah formal, dimana diadakan evaluasi keberhasilan santri yang diukur berdasarkan nilai rapor dan ijazah setiap akhir tahun menurut kalender pendidikan pesantren. Dan pada tahun 1992, diadakanlah pendidikan ketrampilan (ekstrakurikuler) sebagai penunjang kurikulum setiap minggunya.

Pesantren melebarkan sayap pendidikannya

Sesuai dengan tujuan didirikannya YISA, pesantren mulai melebarkan pundi-pundi sayap pendidikannya. Pada tahun 1991, yayasan mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Al-Sya’iriyah (MIA) yang terletak di sebelah selatan Masjid Al-Humam Plumbon. Didirikannya madrasah ibtidaiyah ini bertujuan: guna memberikan pengetahuan agama dasar kepada anak-anak usia dini yang berbasis pesantren. Menurut Kiai Haji Agus Musyafa’, selaku Ketua Yayasan Islam Al-Sya’iriyah, program ini merupakan perwujudan visi dan misi pesantren yang sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan awal. Pesantren selalu mengedepankan pengajaran yang berdasarkan atas realitas pergolakan zaman, dengan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan tantangan globalisasi.

“Pendirian MIA ini merupakan program pertama yayasan untuk mendidik generasi muda usia dini, dengan memadukan antara ilmu yang berkaitan dengan persoalan agama dan ilmu-ilmu modern yang sifatnya lebih umum”. Tutur Kiai Agus.

Sebagai jenjang lanjutan, pada tahun 2000 yayasan kembali melebarkan pundi-pundi sayap pendidikannya, dengan merangkul Madrasah Tsanawiyah Plumbon yang sudah berdiri saat itu untuk bergabung bersama yayasan, guna memajukan pendidikan formal di bawah naungan Yayasan Islam Al Sya’iriyah.

Selanjutnya di tahun 2007, yayasan juga menambahkan lembaga pendidikan yang setingkat dengan SLTA, dengan kompetensi keahlian yang belum banyak diajarkan khususnya di wilayah Karesidenan Pekalongan. Atas saran Kiai Manaf, dibuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang kesehatan dengan kompetensi keahlian farmasi yang diberi nama SMK Farmasi Al Sya’iriyah (sekarang SMK Al Sya’iriyah).

Selain SMK, yayasan juga menambahkan pendidikan yang setingkat, yang dilatar belakangi permintaan dari beberapa alumni pesantren  dengan mendirikan Madrasah Aliyah Takhassus Al-Sya’iriyah, kemarin di tahun 2017. Sebuah lembaga pendidikan yang mengedepankan ilmu-ilmu klasik berupa kajian kitab-kitab kuning dengan cara yang lebih modern dan kekinian.

“Kami juga masih berkeinginan, beberapa tahun ke depan yayasan Al-Sya’iriyah ini bisa memiliki perguruan tinggi, mengingat di Kabupaten Batang masih minim dengan jenjang pendidikan tersebut, apalagi yang berbasis pesantren dan kitab kuning.”  Tambah Kiai Agus.

Selain lembaga-lembaga pendidikan formal, yayasan juga menaungi lembaga-lembaga pendidikan salaf (non formal). Selain Pondok Pesantren TPI Al Hidayah yang sudah berdiri lebih awal, yayasan juga menaungi Pondok Pesantren Banat (putri) Al Ishlah, yang diasuh oleh Kiai Abdul Manaf dan Nyai Uswatun Khasanah. Sebagian besar santriwati Al-Ishlah adalah huffadz (penghafal Al Qur’an) dengan menginduk pada Nyai Uswatun. Ada juga Pondok Pesantren Al Banin yang dikhususkan untuk anak-anak usia MI. Didirikan pula Asrama putri Al Amanah dibawah asuhan Nyai Faridatul Bahiyah, dengan harapan menjadi tempat yang ideal bagi siswi-siswi SMK Al Sya’iriyah. Dan bagi para santri yang tidak masuk ke sekolah formal, disediakan program pendidikan kesetaraan wustho (setara dengan SLTP) dan ulya (setara dengan SLTA).

Jika disimpulkan dari awal, Pondok Pesantren yang didirikan oleh Kiai Sya’ir ini, beserta segenap jajaran yang ada di dalamnya merupakan satu kesatuan yang lengkap dan komprehensif dengan tupoksinya masing-masing: Kiai Abdul Manaf fokus dengan perihal Pondok Pesantren, meliputi Pondok Pesantren TPI Al Hidayah, Al Ishlah, dan Al Banin, Kiai Agus dengan pendidikan formalnya termasuk program kesetaraan, dan Nyai Faridah dengan Asrama putri Al-Amanah. Pemfokusan di atas bukan berarti masing-masing lepas dari satu urusan dari beberapa urusan lainnya. Sebagai kesatuan yang memiliki istilah “Bani Sya’ir” ini tetap melakukan diskusi setiap pengambilan keputusan terkait persoalan perkembangan pesantren.